Sabtu, 28 Desember 2013

michi 4

Aku terus menatapnya melalui pantulan jendela, wajah manis itu dan mata sayu itu, benar-benar gadis yang sempurna, seorang gadis yang tadi pagi aku abaikan, apakah kali ini aku akan mengabaikannya juga?. Aku terus mengumpulkan keberanian untuk duduk di sampingnya dan mulai mengenalnya. Tetapi hal ini sangat sulit dari yang aku bayangkan.
Aku masih menatapnya, gadis itu pun mulai merasa ada yang mengawasi dan langsung menatap ke arah ku, bagaikan terkena sengatan listrik di wajahku, Akupun sontak menatap kearah lain dengan wajah yang sepertinya memerah, tapiaku curi-curi melirik ke arahnya.
"Ya Tuhan dia masih menatapku." Gumamku dalam hati "Apa yang harus aku lakukan?"
Gadis itu mulai berdiri dari tempat duduknya, dan mulai melangkahkan kakinya.
"Apa dia akan duduk di sebelahku?,Ahh..tidak jangan sekarang." Ucapku dalam hati "Apa dia akan kemari?." Sontak degup jantungku semakin kencang berdegup seperti mesin mobil di lintasan balap."Aku susah bernafas." gumamku"perasaan apa ini?"
Gadis itu terus menatapku, dia terus melangkah kearahku. "Halte Taman Residence..Halte Taman Residence..Terima Kasih telah menggunakan jasa angkutan kami, periksalah barang bawaan anda sebelum meninggalkan bus." Suara Pengumuman di Interkom Bus dan gadis itu berjalan menuju dekat pintu keluar bus. Ternyata hanya perasaanku saja yang terlalu ke-PDan, gadis itu tidaklah datang kepadaku, tetapi dia akan turun di Halte tersebut. Sebelum gadis itu turun dari bus, dia sekali lagi menatap ke arahku. Aku masih belum berani menatapnya dengan wajah merahku, tapi aku melirik padanya. Aku melihat dia tersenyum padaku, senyumannya begitu manis dan seakan membuat jantungku berhenti berdetak.
"Ahh..Apa aku sedang bermimpi?","benarkah dia tadi tersenyum padaku?"ucapku dalam hati.
"Hey, Tyo!."Suara Evie mengejutkanku,"Apa kau setuju dengan yang kami bicarakan?.."tanya Evie melanjutkan."Bagaimana menurutmu?."
"Eh..Apa?."Jawabku Asal"Ahh..I..iya aku setuju saja,yang penting itu keputusan terbaik."
"Hei..Kau tidak apa-apa?."Taegas Evie"Apa kau sedang sakit?..kenapa wajahmu memerah seperti itu?."
"Apa maksudmu..Aku baik-baik saja kok."
"Kau sepertinya menyembunyikan sesuatu dari kami.."Dwi masih mencurigaiku
"Tidak ada yang harus aku sembunyikan dari kalian.."tegasku seraya ketawa kecut"bisa kacau kalau mereka tau.."batinku. Bus yang tadinya berhenti mulai berjalan kembali, meninggalkan halte tempat gadis itu turun. Aku masih melihatnya berdiri di halte itu, "Apakah itu daerah tempat tinggalnya?" gumamku dalam hati. Tanpa Aku sadari Dwi dan Evie pun melihat ke arah gadis itu.
"Wahh..dia gadis yang manis."Ucap Dwi
"Siapa gadis itu?."tanya Evie"Apakah kau mengenalnya?."
"Eh.."aku terkejut, tanpa bisa mengatakan apa-apa dengan wajah yang semakin memerah
"Hey..Evie kau mempertanyakan hal bodoh."sahut Dwi"Kau tau..teman kita satu ini sepertinya sedang jatuh cinta."
"Hey..diamlah."balasku kesal"jangan ngomong sembarangan..siapa yang sedang jatuh cinta!."
"Kalian Berdua diamlah.."Evie menengahi kami"Kalian laki-laki payah..kalian hanya menatap gadis yang kalian suka dari jauh, tanpa berani bertindak apa-apa, pantas saja tidak ada gadis yang mau sama kalian sejak SMA."
Seketika itu Aku dan Dwi seperti tertimpa batu berton-ton di kepala kami,"Iya maafkan kami.."Ujarku dan Dwi menyesali hidup. Evie-pun memulai ceramahnya seakan dia psykolog yang sudah handal, dia memberitahukan pada kami segala hal tentang wanita, hingga tanpa sadar Bus berhenti di Halte tempat tinggal kami, tetapi Evie masih saja asik dengan ceramahnya, Aku dan Dwi berniat mengerjainya. Tanpa memberi tahu Evie Aku dan Dwi turun dari bus. Setelah kami turun bus kembali berjalan, dan Eviepun menyadari jika Aku dan Dwi sudah turun dari bus. Evie melihatku dan Dwi dari dalam bus, dia terlihat sangat kesal dan mengomel. Aku dan Dwi hanya bisa tertawa dan melambaikan tangan ke arah bus.
"Hey..Dwi, Apa tidak apa?..kita lakukan itu pada Evie."Tanyaku cemas
"Sudahlah..ayo pulang..dia seorang laki-laki..dia akan baik-baik saja."balas Dwi"kau tidak ingat kalau dia sudah berceramah..dia akan melakukannya berjam-jam."
Aku hanya tersenyum membalas ucapan Dwi.
"Wahhh..Aku tak sabar lagi menunggu besok.."ujar Dwi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar